JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (27/5/2026). Mata uang Garuda bahkan menembus level Rp17.800 per dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Dilansir dari “investor.id” (https://reference-url-citation.invalid/0), berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah 37,50 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp17.833 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat turun tipis 0,03 persen ke level 99.136.
Pelemahan tersebut melanjutkan tren negatif sehari sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (26/5/2026), rupiah ditutup melemah 52 poin setelah sempat terkoreksi hingga level Rp17.796 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran pasar global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah, khususnya terkait Iran. Kondisi tersebut membuat investor kembali memburu dolar AS sebagai aset aman atau safe haven.
Selain itu, pergerakan yen Jepang yang mendekati level intervensi turut menjadi perhatian pelaku pasar. Dikutip dari MarketScreener, yen sempat bergerak di kisaran 159,20 per dolar AS dan mendekati level psikologis 160 yang dinilai rawan memicu intervensi otoritas Jepang.
Gubernur Bank Sentral Jepang, Kazuo Ueda, juga mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah berpotensi berlangsung lebih lama dan dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut apabila tensi geopolitik global terus meningkat dan harga energi dunia mengalami kenaikan signifikan.
(MB)
















